Satu Cerita Tentang kartini Sang Bunga Ranjang

Cerpen Oleh Joe Sorjan

cerita pendek joe kartini Jarum jam menunjuk angka 2, dingin sudah mulai membelai kulit dan meminta perhatian agar aku segera tidur. Aku sudah memuaskan birahi Pak Reno, lelaki gendut kepala RT-ku. Dia berjalan terhuyung-huyung pulang ke rumahnya. Badannya bau sekali, mungkin dia hanya mandi pada bulan Suro saja, nafasnya berat, ngos-ngosan seperti dikejar maling, dan rambutnya yang mulai memutih itu, sering rontok kalau terkena tarikan, walaupun sedikit saja. kalau saja dia tidak membayar selembar ratusan ribu untuk “short attack”, aku tidak akan sudi melayaninya.

 Oh ya..perkenalkan namaku kartini, aku memakai k (kecil) untuk namaku karena aku tidak mau menodai nama Ibu bangsa Indonesia Raden Ajeng Kartini. Dia adalah idolaku sejak kecil, memang dia hanyalah seorang anak selir dari asisten Wedana, tapi cita-citanya untuk membangun bangsaku sangat aku kagumi. Aku tak perduli walaupun dia akhirnya menyerah kepada nasib dengan menikahi seorang bupati, bupati lagi bupati lagi, aku jadi muak mendengar nama itu, seperti tidak ada nama lain saja di dunia ini. Bupati yang berkuasa di wilayah yang cukup luas, disembah di sana sini, orang menyungkur kalau bupati lewat, bisa menikahi perempuan lebih dari satu, bahkan mungkin sepuluh. Tetapi kebangsatan priyayi yang bertitel bupati ini juga tak kalah memuakkan, dia akan menyungkur terhadap pembesar-pembesar kumpeni, bangsaku menyebut demikian. Hasil bargaining dari Verenigde Oost-Indische Compagnie, bangsaku susah melafalkannya sehingga menyebut kumpeni dengan gampangnya.

Ibu Kartini memang menyerah terhadap tekanan yang diterimanya, tapi aku toh menyerah juga pada tekanan yang menghimpitku. Jadi sekali lagi aku tidak perduli, bagiku Kartini adalah pahlawanku. Tapi begitulah, namaku juga kartini, tentu saja tanpa Raden Ajeng atau Raden Ayu di depannya, dulu waktu aku masih sekolah SD, aku dengan bangga menggunakan K besar di ujung namaku, aku ingin menjadi seperti dia, menentang kelaliman laki-laki, berteriak melawan kemunafikan para priyayi-priyayi korup, berharap menghancurkan budaya malu-malu dan unggah-ungguh, mencoba mendidik wanita negeri untuk mampu mendongakkan wajah menghadap cerahnya kehidupan.

Tapi cita-cita menjadi hanyalah sekedar cita-cita, seperti uap air yang akan segera menghilang membubung ke angkasa, berarak ke sana kemari menawarkan diri. Aku tidak bisa lagi melanjutkan ke SMP, walapun rentetan nilaiku cukup menjanjikan. Aku termasuk orang yang cukup cerdas, setidaknya itulah yang dibilang guru-guru SD ku. Tapi beberapa lembar puluhan ribu tak ada pada diriku, sehingga dengan sangat terpaksa aku mendekam di rumah, menyaksikan teman-teman sebayaku memakai sepatu baru, celana baru, tas baru, dan semua yang serba baru, cerah menjemput harapan. Kadang aku harus menangis, mengapa dunia ini terlalu jahat kepadaku, seorang gadis kecil yang harus menabrak kenyataan pahit. Setiap pagi aku harus bangun, membantu ibu memasak, dan kemudian ikut ke sawah membantu apa saja yang bisa kulakukan. Sepetak tanah hasil warisan dari kakek itulah satu-satunya harapan hidup kami. Itupun sering harus dibiarkan bero karena pengairan irigasi belum sampai menyentuh sawah kami.

Aku cukup cantik, tubuhku putih bersih, rambutku panjang berombak, mataku bulat disertai bola mata yang tajam, seperti putri Bali kata ibuku. Dua tahun setelah aku lulus SD, datang seorang tetangga kami, Pak Dasad namanya, seorang tuan tanah. Dia bilang terus terang pada orang tuaku agar diijinkan mengawiniku, sebagai gantinya sawah sebahu akan diberikan kepada mereka. Ibuku dengan tegas menolak permintaan itu, bahkan dia menangis sesenggukan. Tapi bapak punya pendapat lain, dia setuju dan bahkan meminta persyaratan tambahan dari Pak Dasad, tegalan yang di pinggir kali punya Pak Dasad pun dimintanya juga. Malamnya terjadi perang besar antara bapak dan ibu, pertama kali dalam hidupku kulihat mereka begitu saling benci, saling caci, sumpah serapah keluar semua. Aku hanya diam saja. Hatiku menangis, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ingin lari tetapi lari kemana. Aku hanya sesenggukan sendiri di kamar. Besoknya aku sudah dipingit, tidak boleh keluar sama sekali. Rupanya bapak lebih superior daripada ibu, dan aku yang harus menjalani derita dari zaman ke zaman ini.

Beberapa hari setelahnya pun aku menikah, sederhana dan kecil-kecilan, karena aku memang istri ke sekian dari Pak Dasad. Dan malam petaka itupun datang, dengan nafsu Rahwana-nya Pak Dasad memperkosaku, ya dia memperkosaku. Sama sekali tidak ada foreplay, sama sekali tidak ada kata-kata sayang yang seharusnya sangat diharapkan oleh seorang perempuan. Alih2 tahu tentang G-spot, bahkan setelah nafsu birahinya terpuaskan, diapun tidur terlelap dan mendengkur di sampingku.

Pernikahan kami tidak berlangsung lama, Pak Dasad adalah tipe yang ringan tangan. Kepalan tangannya sering mendarat di sekujur tubuhku bila ada sesuatu yang menurut dia salah, kadang sampai ikat pinggang melecut di punggungku, paling ringan telapak tangannya yang keras dan kasar mendarat pipiku. Lama kelamaan aku tidak tahan lagi, akupun minta cerai. Permintaanku dikabulkannya, tetapi masalah tidak berhenti di situ, saat itu aku mengandung janinnya. Untuk menghindari malu, aku langsung mengungsi ke daerah perkotaan. Dimana berlaku filosofi hidupmu adalah hidupmu dan hidupku adalah hidupku, atau masing-masing.

Dan lahirlah Dara, mungil dan cantik, waktu lahir beratnya hanya 2,7 kg. Aku memberi nama demikian, karena aku ingin kelak nanti dia bisa terbang bebas seperti burung dara (merpati=red), menemukan soul mate-nya dan hidup bahagia selama-lamanya. Untuk menghidupi Dara, aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Siang hari aku bekerja, dan malam hari aku merawat Dara. Untung siang hari ada seorang nenek di sebelah kontrakanku yang sudi menunggui dan mengurusi Dara tanpa bayaran sepeserpun.

Suatu saat aku ketiduran saat memasak, lelah sekali karena Dara rewel terus semalaman, dan panci tempat aku masak itupun hangus dan terbakar. Aku mendapat marah besar dan seketika itu pula dipecat dari jabatan pembantu rumah tangga.

Mencari pekerjaan susah sekali, jangankan untuk aku yang hanya lulusan SD, para sarjana-sarjana dengan title yang berjejer, yang telah menghabiskan puluhan juta untuk studinya saja harus berlari pontang-panting ke sana kemari mencari sesuap nasi. Dara kena demam, aku tidak ada uang sama sekali, aku pinjam kesana kemari tidak ada yang mau meminjami, Dara menangis saja tanpa henti, aku sampai pusing mendengarnya. Tiba-tiba pintu kontrakanku dibuka, aku kaget, Pak Budi, tetanggaku yang ganteng itu masuk tanpa permisi. Dia menawarkan untuk membawa Dara ke dokter terdekat, tetapi meminta imbalan tubuhku. Aku bimbang memilih antara nilai harga diri dan kecintaan kepada anak. Akhirnya aku memilih yang kedua. Itulah pertama kali aku menjual tubuhku untuk beberapa lembar puluhan ribu. Pekerjaan ringan sebenarnya, walau hati ini pedih. Tetapi aku tidak punya pilihan lain.

Dan menjadi perempuan penjual cinta pun menjadi pekerjaanku sejak saat itu. Aku tidak tahu kenapa, namaku cepat sekali menyebar di kalangan underground pria hidung belang. Kebanyakan memang pria baik-baik yang menjadi langgananku, tetapi juga tak jarang pula para bangkotan tengik macam Pak Reno yang menikmati tubuhku.

Dara sudah berumur 3 tahun sekarang, sudah mulai ceriwis, rasa ingin tahunya semakin besar, dan sudah mulai kelihatan tanda-tanda kecantikan yang ia warisi dariku.

“Mama, kenapa setiap hari selalu ada orang kesini..?, apakah mereka menyakiti mama..?”

“Oh tidak Sayang, mereka tidak menyakiti mama, mereka justru membantu mama, untuk membeli makanan dan menyekolahkan Dara tahun depan”

“Mama, nanti mau jadi seperti Mama ach…?”

Aku kaget, dan tak terasa airmataku meleleh. “Dara…., Dara harus jadi Kartini yang tidak pernah menyerah” Dan keangkat Kartini masa depan itu kepangkuanku, kupeluk ert, kucium mesra dan kudendangkan lagu kesenangannya.

Ada yang benci dirinya

Ada yang butuh dirinya

Ada yang berlutut mencintainya

Ada pula yang kejam menyiksa dirinya.

Ini hidup wanita si Kupu-Kupu Malam

Berkerja, bertaruh,s eluruh jiwa

Bibir Senyum, kata manis merayu memanja

Kepada setiap mereka yang datang

Dosakah yang dia kerjakan?

Sucikah mereka yang datang?

Kadang dia tersenyum dalam tangis

Kadang dia menangis didalam senyuman

Oh.. apa yang terjadi…terjadilah

Yang dia tau Tuhan Penyayang Umatnya

Oh..apa yang terjadi…terjadilah

Yang dia tau hanyalah menyambung nyawa

Songs and Lyric by Titiek Puspa

Wassalam

Joe Sorjan

Catatan kecil:

  1. wedana : pemimpin dari kumpulan beberapa kecamatan, setingkat di bawah bupati
  2. bero : tanah puso/tidak digarap
  3. sebahu : seperempat hektar

Sumber : http://kumcer.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 898,301 hits
%d blogger menyukai ini: